Skip to content

dangdut

18 Juli 2011

        Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

      Dangdut: Musik atau Bukan? Wajah dangdut sudah mengalami perubahan
      signifikan beberapa tahun belakangan ini. Tahun 90-
      an dulu, paling-paling kita cuman tahu, Camelia Malik,
      Rhoma Irama, Meggy Z. dan seterusnya. Sekarang
      mereka sudah jadi senior. Ketika Inul Daratista
      muncul dengan goyangan ngebornya, Rhoma Irama mengecamnya. Apakah sang senior iri dengan sang
      junior? Entahlah, yang pasti, sekarang ini dangdut
      sudah lebih dari sekedar lagu. Tidak ada yang baru dengan goyangan ngebor Inul.
      Tidak ada yang baru dengan goyangan patah-patah
      Anisa Bahar. Tidak ada yang baru dengan goyangan
      erotis Dewi Persik. Pertanyaannya, apa yang
      istimewa dari mereka? Tarian-tarian seperti itu
      dengan mudah ditemui di klub-klub erotis di luar negeri. Loh? Apa saya pernah ke sana? Sebetulnya sih
      tidak, saya cuman lihat di filem-filem dan ya
      goyangannya seperti itu. Lagipula, kalau tarian itu cuman ‘bumbu’, kenapa
      malah jadi main attratction aksi panggung? Sudah
      saatnya ada yang ‘menampar’ orang-orang untuk
      meninjau ulang apa yang dimaksud dengan dangdut
      sebenarnya. Saya pernah lihat sendiri aksi panggung
      penyanyi dangdut di panggung. Benar-benar pelecehan seksual. Selagi penyanyi itu menyanyi,
      penonton naik panggung dan ‘menyirami’
      penyanyi ini dengan duit saweran sambil sedikit-
      sedikit menyentuh. Waw. Di video lain, ada aksi
      panggung penyanyi dangdut menirukan adegan filem
      biru. Apa? Mau berlindung di kebebasan berekspresi lagi?
      Kenapa tidak jadi binatang sekalian. Lihat saja, anjing
      di jalanan bebas berekspresi, tidak ada yang
      mengganggu gugat. Apakah kita mau seperti itu?
      Tentu tidak. Kita harus menunjukkan bahwa moral
      kita tidak serendah itu. Sudah cukup banyak kebejatan di negeri ini. Kembalikan dangdut ke
      konsep semula. Dangdut bukan soal tarian, tapi soal
      musik. Dan, jangan sebut dangdut itu ciri khas
      Indonesia. Banyak koq, lagu dangdut hasil saduran
      lagu-lagu Arab dan/ atau India. Cucak Rowo lagu
      siapa? Itu lagu country, kalau mau tahu. Mengerikan apa yang terjadi di negeri ini, sementara
      orang-orang banyak yang mati kelaparan (secara
      harafiah), seperti yang terjadi baru-baru ini di Kediri, Dewi Persik mati-matian membela aksi bejatnya
      sendiri. Masih sukur, baru dicekal di Tangerang dan
      Depok. Padahal itu pun sebenarnya tidak dicekal.
      Masih boleh manggung, asal jangan mengumbar
      anggota badan macam penari di klub red district. Gak
      usahlah Dewi Persik nyebut-nyebut soal dia suka mendonorkan duitnya. Kalau ikhlas, gak perlu itu
      disebut-sebut. Gak usahlah Dewi Persik nyebut-nyebut
      soal keturunan beragama. Akhlaknya jelas-jelas gak
      menunjukkan demikian. Sekali lagi, kembalikan
      konsep dangdut ke semula: musik!
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: